Rabu, 06 Februari 2013

SEJARAH LOKAL KAWASAN PERINDUSTRIAN KERAJINAN KENDANG JIMBE DI DESA SANTREN KELURAHAN TANGGUNG, KECAMATAN KEPANJEN KIDUL, KOTA BLITAR



by. Ika Sambita Girinandi

Abstrak. Alat musik merupakan gambaran dari ungkapan jiwa seseorang. Suatu alat musik mempunyai sejarah tersendiri. Terlihat dari nama alat musik berikut yang mencerminkan bagian dari peristiwa sejarah tersebut. Dengan demikian alat musik baik tradisional maupun modern penting untuk diketahui agar dimengerti sejarah perindustrian tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejarah perindustrian suatu desa, khususnya di Desa Santren. Dari data-data yang diperoleh diketahui bahwa alat musik Kendang Jimbe merupakan alat musik unggulan desa Santren dan kota Blitar.

Kata-kata kuci: Desa Santren, Alat musik, Kendang Jimbe

Seni musik di Indonesia, baik tradisional maupun modern sangat banyak terbentang dari Sabang hingga Merauke. Setiap provinsi di Indonesia memiliki musik tradisional dengan ciri khasnya tersendiri. Musik tradisional termasuk juga keroncong yang berasal dari keturunan Portugis. Di daerah Tugu, Jakarta yang dikenal oleh semua rakyat Indonesia bahkan hingga ke mancanegara. Ada juga musik yang merakyat di Indonesia yang dikenal dengan nama dangdut yaitu musik beraliran Melayu modern yang dipengaruhi oleh musik India sehingga musik dangdut ini sangat berbeda dengan musik tradisional Melayu yang sebenarnya, seperti musik Melayu Deli, Melayu Riau, dan sebagainya.
Siapa yang pernah tahu jumlah pasti alat musik tradisional Indonesia. Sungguh sebuah kekayaan intelektual milik budaya Indonesia yang tidak ternilai harganya. Namun dilain pihak banyak pula yang tidak mengetahui bahkan sama sekali belum pernah mendengar alat musik tradisional tersebut dimainkan, ditengah derasnya industri musik modern alat musik tradisional ini semakin terpinggirkan. Alat musik tradisional Indonesia atau yang biasa juga disebut dengan alat musik daerah Indonesia sangat banyak sekali karena biasanya masing-masing provinsi mempunyai alat musik tradisional masing-masing.
Banyak pula dari alat musik tradisional Indonesia ‘dicuri’ oleh negara lain untuk kepentingan penambahan budaya dan seni musiknya sendiri dengan mematenkan hak cipta seni budaya dari Indonesia. Seperti yang pernah dilakukan negara tetangga yang  menjadikan alat musik Angklung dan Gamelan dari Jawa sebagai alat musik yang berasal dari Malaysia. Tidak terkecuali pula dengan kebudayaan yang dimiliki Indonesia, yang tidak jauh beda dengan nasip alat musik tradisional tersebut. Sedikit kita melihat cerita tentang pengklaiman yang dilakukan Malaysia terhadap alat musik tradisional Indonesia yaitu Angklung.
Sekitar tahun 2010 lalu, alat musik Angklung yang berasal dari Jawa Barat ternyata diklaim oleh Malaysia sebagai miliknya. Untungnya hal ini berakhir baik, dengan Angklung sebagai alat musik bambu Indonesia yang dikukuhkan sebagai salah satu warisan budaya dunia oleh UNESCO atau “World Intangible Heritage” menyatakan alat musik tersebut berasal dari Indonesia pada November 2010. Maka tidak akan ada lagi negara lain yang mengaku (klaim) Angklung berasal dari negara mereka. Selain adanya pengamanan dan pengakuan Angklung sebagai warisan budaya dunia, juga akan berdampak secara ekonomis. Para perajin Angklung akan diuntungkan dengan mendapatkan banyak pesanan Angklung dari dalam dan luar negeri.
Dengan adanya hak paten yang dimiliki Indonesia dapat sedikit menenangkan hati masyarakat Indonesia untuk terus berkreasi dan berkarya. Hal ini juga menjadi hasil bagi kesenian Indonesia bagi dari alat musik tradisional, kebudayaan yang dimiliki Indonesia dan lain sebagainya. Selain itu menjadikan pelajaran yang paling berharga untuk melestarikan kebudayaan Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Dan menjadi dasar bagi penulis dalam menulis tentang sejarah kerajinan untuk menentukan sumber budaya yang dimiliki dan menjadi identitas bangsa Indonesia.
Sejarah kerajinan pada dasarnya penting untuk diketahui agar dimengerti asal-usul dari kerajinan tersebut. Pengetahuan tentang sejarah kerajinan dapat dilakukan dengan mengetahui kerajinan tersebut, kemudian juga harus diketahui orang yang dianggap mengembangkan industri tersebut. Satu hal lagi yang penting untuk diketahui, yaitu mengenai sumber-sumber yang berupa sumber lisan (wawancara), maupun artefaktual (benda-benda yang ada) dari kerajinan yang sampai saat ini masih tetap diproduksi dan dikembangkan ke luar daerah itu. Hal itu semua dapat digunakan untuk mengungkap sejarah dari suatu kerajinan atau alat musik tradisional yang diproduksi di daerah ini.
Dalam artikel ini penulis meneliti mengenai sejarah kerajinan kendang Jimbe. Khususnya yang manjadi studi kasus adalah Desa Santren yang berada di Kelurahan Tanggung, Kecamatan Kepanjen Kidul, Kota Blitar, Provinsi Jawa Timur. Hal itu dilakukan karena di Desa Santren terdapat suatu perindustrian kerajinan asing yang kemudian dijadikan acuan sebagai sumber mata pencaharian masyarakat setempat. Perindustrian kerajinan tersebut adalah Kendang Jimbe yang berada di desa Santren dan hampir semua masyarakat membuat dan mengembangkan industri tersebut. Diperkirakan kerajinan tersebut merupakan alat musik tradisional yang berasal dari luar Indonesia.
Oleh karena itu, penulis meneliti mengenai sejarah kawasan perindustrian kerajinan Kendang Jimbe di Desa Santren, Kelurahan Tanggung, Kecamatan Kepanjen Kidul, Kota Blitar, Provinsi Jawa Timur. Hal itu dilakukan agar diperoleh informasi mengenai awal mula nama Jimbe dan perkembangannya di Indonesia yang khususnya di desa Santren dan sekitarnya tersebut. Selain itu juga untuk memaparkan bukti-bukti yang mendukung dalam sejarah kerajinan kendang Jimbe tersebut agar diperoleh fakta yang akurat dalam penelitian ini. Untuk menganalisis hal tersebut dibutuhkan suatu pemahaman dan pengetahuan yang konkret mengenai sejarah, perkembangan, dampak, jumlah dan pemasaran kendang Jimbe tersebut. Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, maka penelitian ini bertujuan 1) Mengkaji sejarah Kendang Jimbe, 2) Menganalisis bukti-bukti sejarah yang mendukung dalam perkembangan, jumlah dan pemasaran dari Kendang Jimbe tersebut.

Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang berupaya menjelaskan mengenai sejarah kerajinan Kendang Jimbe. Menurut Soejono penelitian deskriptif dapat diartikan sebagai prosedur pemecah masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan subjek/ objek penelitian (seseorang, lembaga, masyarakat, dan lain-lain) pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. Selain itu juga menganalisis bukti-bukti masuknya kerajinan Kendang Jimbe tersebut ke desa Santren dan fakta-fakta yang terkumpul ketika pada saat pencarian sumber data. Selain itu juga menggunakan metode penelitian sejarah, yang terdiri dari pemilihan tema, heuristik, kritik intern dan ekstern, interpretasi, dan yang terakhir adalah historiografi.
Subjek penelitian yang digunakan adalah beberapa pengusaha Kendang Jimbe di desa Santren. Pembahasan yang lebih mendalam yaitu mengenai sejarah kerajinan Kendang Jimbe dan bukti-bukti yang mendukung sejarah Kendang Jimbe tersebut. Sejalan dengan subjek penelitian, sumber-sumber data dari penelitian ini adalah arsip penjualan Kendang Jimbe untuk tiap bulannya, serta pendapat para informan mengenai sejarah kendang tersebut.
Penelitian ini mengambil lokasi di Jawa Timur, yakni di Desa Santren, Kecamatan Kepanjen Kidul, Kota Blitar. Pemilihan lokasi penelitian tersebut dikarenakan oleh kenyataan bahwa awal pembuatan Kendang Jimbe hanya ada di desa tersebut. Tetapi juga ada sebagian kecil yang terdapat di luar daerah itu, seperti daerah lain yang sama memproduksi Kendang Jimbe. Selain itu juga letak lokasi penelitian yang mudah dijangkau karena dekat dengan tempat tinggal peneliti.
Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu 1) Observasi dengan peneliti terjun langsung ke lapangan dan 2) Membaca beberapa literatur mengenai sejarah Kendang Jimbe dan juga perkembangannya di dunia perdagangan. Analisis data tersebut dilakukan dengan cara menghubungkan antara literatur mengenai sejarah dan perkembangan Kendang Jimbe dengan kondisi nyata di Desa Santren. Setelah itu dilakukan penarikan kesimpulan mengenai bagaimana sejarah Kendang Jimbe di desa Santren. Yang mana pada akhirnya dapat disusun menjadi sebuah tulisan sejarah kerajinan Kendang Jimbe di desa Santren.

Sejarah Jimbe
Kata Jenbe/Jyembe/Jembe/Jimbay/Jimbe/Sanbanyi merupakan warisan budaya yang berasal dari daerah Afrika. Asal usul kata Djembe berasal dari Kerajaan Mali tepatnya sekitar abad XII. Dari semua alat musik pukul yang ada di Afrika alat musik yang paling terkenal adalah djembe yang mengilhami pembuatan drum di seluruh dunia. Asal mula ejaan “jembe” berasan dari huruf “dj” yang merupakan simbol untuk mengingat bahwa bangsa Afrika dulu pernah dijajah oleh Perancis. Sedangkan kata djembe berasal dari kata “dyembe” yang merupakan kata dari suku Mali. Menurut bangsa Mali, djembe berasal dari kata “Anke dje” yang artinya semua orang berkumpul bersama-sama. Karena orang Perancis terbiasa dengan menggunakan huruf “J”, maka lebih sering menggunakan kata djembe. Konon huruf “J” ini sebagai simbol untuk mengingat sakitnya dijajah oleh Perancis.
Djembe merupakan sebuah kayu yang berbentuk gelas dan ditutup oleh kulit yang diikat dengan tali untuk mengencangkannya. Pada jaman dahulu djembe digunakan sebagai alat komunikasi antara desa satu dengan desa yang lainnya. Mengingat pada masa itu jarak antara desa satu dengan yang lainnya sangat jauh. Pada perkembangannya, jimbe digunakan untuk perlengkapan upacara-upacara tradisional masyarakat Afrika. Menurut kepercayaan orang Afrika terdapat 3 kekuatan roh di dalamnya. Pertama, adalah roh dari kayu atau pohon yang menggambarkan kekuatan, ketegasan, penopang dan pelindung. Kedua, adalah roh dari hewan atau kulit yang menggambarkan kemakmuran dan kesejahteraan. Ketiga, adalah pembuat djembe itu sendiri yang menggambarkan semangat dari pembuatnya.
Ada kesepakatan umum bahwa asal mula djembe dikaitkan dengan kasta Mandinka dari pandai besi yang dikenal sebagai Numu. Karena penyebaran luas dari drum djembe seluruh Afrika Barat mungkin adanya migrasi Numu selama milenium pertama Masehi. Meskipun asosiasi dari djembe dengan Numu itu, tidak ada pembatasan keturunan pada siapa yang dapat menjadi djembefola (harfiah, “satu yang memainkan djembe”). Hal ini berbeda dengan instrumen yang penggunaannya dicadangkan untuk anggota kastagriot, seperti balafon, kora, dan Ngoni (djembe bukan merupakan instrumen griot). Siapapun yang bermain djembe disebut sebagai djembefola, sehingga istilah ini tidak berarti tingkat tertentu dalam keterampilan.
Secara geografis, distribusi tradisional djembe dikaitkan dengan Kekaisaran Mali yang tanggal kembali ke 1230 AD dan termasuk bagian dari modern negara Guinea, Mali, Burkina Faso, Pantai Gading, dan Senegal. Karena kurangnya catatan tertulis di negara-negara Afrika Barat, sehingga tidak jelas djembe telah ada sebelum atau sesudah Kekaisaran Mali. Akan tetapi, sejarah djembe mencapai kembali untuk beberapa abad dan mungkin lebih dari satu milenium yang lalu. Bentuk piala djembe menunjukkan bahwa awalnya telah dibuat dari mortir. Mortir sendiri banyak digunakan di Afrika Barat untuk persiapan makanan.
Dalam sumber lain, menyebutkan bahwa kendang jimbe sendiri berasal dari Afrika yang tepatnya dari negara Zimbabwe. Saat ini, kendang  Jimbe menjadi  sangat populer di Indonesia dengan membawa inovasi terbaru di bidang seni. Akan tetapi, masyarakat Indonesia tidak bisa melafadzkan Zimbabwe yang menggunakan dialek Jawa, sehingga lahir lafadz jimbe dan populer hingga saat ini.
Berikut nama-nama drumer djembe yang masih aktif dalam penyebaran djembe: C.G. Ryche (U.S.A.), Mansa Camio (Guinea), Abdoulaye Diakite (Senegal), Abdoul Doumbia (Mali), Bolokada Conde (Guinea), Drissa Kone (Mali), Séga Sidibé (Mali), Famoudou Konaté (Guinea), Ibrahima Sarr (Mali), Maré Sanogo (Mali), Mamady Keïta (Guinea), Mamady “Wadaba” Kourouma (Guinea), Moussa Traoré (Mali), Iye (Perkusi Asian Roots, Indonesia). Sedangkan berikut ini adalah drumer yang meninggal/pensiun: Babatunde Olatunji (Nigeria), Soungalo Coulibaly (Mali), Yamadu Bani Dunbia (Mali), Fadouba Oularé (Guinea Conakry), Opa Teddy Wardhana (Perkusi Steven & Coconuttreez, Indonesia).

Perkembangan Kendang Jimbe di desa Santren
Sebelum membahas mengenai perkembangan Kendang Jimbe, sedikit kita mengetahui sejarah masuknya Kendang Jimbe di desa Santren. Dahulunya masyarakat sekitar di desa Santren bermata pencaharian bubut kayu yang berupa membuat mainan anak-anak seperti yoyo, ontong-ontong dan masih banyak lagi. Selain itu kebanyakan para pengusaha membuat Kendang Jawa ataupun Kendang Bali. Suatu ketika saat salah seorang warga dari desa Santren ini memasarkan hasil bubutannya yang berupa Kendang Jawa ataupun Kendang Bali. Dia ditawarkan oleh seorang turis asing yang menawarkan untuk membuat Kendang Jimbe tersebut. Hingga ada seorang buruh bubut yang dipercaya beberapa pengusaha Kendang untuk mencoba membuat Kendang Jimbe yang berasal dari Afrika tersebut. Ketika seorang buruh tersebut dapat membuat Kendang Jimbe yang sama persis dengan Kendang Jimbe yang dibawa turis asing tersebut dari Afrika, maka banyak buruh bubut yang mencoba untuk membuat Kendang tersebut. Setelah beberapa buruh berhasil membuat Kendang Jimbe tersebut Kendang Jawa dan Bali sudah tidak seperti dahulu yang laris dipasaran. Banyak turis asing maupun turis lokal yang tertarik dengan Kendang Jimbe tersebut. Menurut mereka Kendang Jimbe ini mempunyai keunikan dan keindahan yang berbeda dengan Kendang Jawa dan Bali.
Industri adalah semua kegiatan manusia yang bersifat produktif untuk memenuhi kebutuhan hidupnya berbentuk barang dan jasa, dengan jalan menstranformasikan faktor-faktor produksi untuk mendapatkan nilai tambah (added value) yang lebih tinggi. Kegiatan industri sangat mengandalkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan faktor-faktor produksi adalah sumber daya alam, sumber daya manusia, modal dan teknologi serta ketrampilan manajemen (skill) (Partomo, 2008 : 1).
Industri kerajinan bubut kayu adalah salah satu industri komoditi andalan kota Blitar. Industri kerajinan bubut kayu menghasilkan berbagai macam produk, diantaranya adalah Kendang Jimbe dengan berbagai ukuran, Yoyo, Asbak, catur, ontong-ontong dan ketapel. Usaha kerajinan bubut kayu menggunakan bahan baku kayu mahoni dan berbahan bakar solar, serta bahan pembantu yaitu pirtus dan bensin. Sentra industri bubut kayu tersebut berada di kecamatan Kepanjen Kidul, kelurahan Tanggung, desa Santren. Jumlah Industri kerajinan kayu terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hal ini dikarenakan Industri kerajinan tersebut menjadi salah satu sumber pendapatan, selain itu Industri kerajinan bubut kayu yang berada di lingkungan Santren yang  merupakan industri rumah tangga yang dikelola secara turun temurun. Sehingga industri kerajinan bubut kayu sudah menjadi ciri khas masyarakat Santren serta menjadi sumber penggerak ekonomi di Desa Santren. Penduduk desa Santren. Blitar mempunyai mata pencaharian yang begitu beragam dari mulai petani, buruh, pedagang, pegawai sipil, dan bahkan pengusaha. Mata pencaharian Kelurahan Tanggung kecamatan Kepanjen Kidul sebagian besar penduduk bekerja sebagai wiraswasta dengan jumlah 1.475 orang.
Usaha kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dan memenuhi kriteria kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan serta kepemilikan sebagaimana diatur dalam undang-undang. Kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil adalah kegiatan ekonomi yang dimiliki dan menghidupi sebagian besar rakyat. Usaha kecil tersebut mencangkup usaha kecil formal, informal dan usaha kecil tradisional (Tohar, 2000 : 15). Hal ini menggambarkan keadaan yang berada di desa Santren yang awalnya membuka usaha kecil dengan skala kecil dan memenuhi kriteria. Usaha tersebut berhasil dengan dukungan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar di desa Santren sehingga usaha-usaha yang dilakukan masyarakat tersebut dapat berjalan lancar.
Dalam penelitian yang dilakukan Jannah (2010) mengenai profitabilitas industri kerajinan bubut kayu di Blitar menjelaskan penjualan kerajinan kayu tersebut telah tersebar ke luar kota. Penjualan kerajinan ini dikirim ke berbagai kota misalnya Bali, Malang, Jogjakarta dan sekitarnya. Potensi industri kecil di Blitar memang patut diunggulkan. Terutama barang kerajinan kayu telah mencapai pasar ekspor. Diantaranya menembus pasar Eropa, Asia, dan Amerika Serikat. Hal ini dikarenakan kerajinan bubut kayu disukai kolektor-kolektor seni mancanegara.
Menurut penelitian Wiyanto (2007) mengenai pengembangan industri kecil desa Tanggung, kota Blitar, menjelaskan bahwa pengembangan industri kerajinan bubut kayu membawa perubahan yang cukup besar terhadap para pengrajin dan para masyarakat luas dalam kehidupannya. Perubahan tersebut meliputi perubahan pada lapangan pekerjaan, pada pendidikan dan peran serta wanita. Perekonomian masyarakat yang dulunya petani, kini berubah pada hasil kerajinan yang mereka hasilkan. Perubahan yang terjadi tersebut terjadi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Peningkatan ditandai dengan sudah terpenuhinya kebutuhan pokok masyarakat, semakin baiknya kualitas bangunan yang dimiliki, semakin baiknya tingkat pendidikan masyarakat dan semakin baiknya tingkat keamanan wilayah mereka dan kesejahteraan masyarakat.
Dalam penelitian yang dilakukan penulis kepada beberapa informan menyebutkan bahwa masyarakat desa Santren rata-rata bermata pencaharian bubut. Bubut sendiri yakni sebuah metode untuk mengolah kayu menjadi barang yang bersifat kerajinan. Awal pembuatannya dengan menggunakan tenaga manual, yaitu dengan menggunakan kaki dan peralatan sederhana. Seiring perkembangan teknologi sekarang lebih banyak menggunakan diesel untuk pengerjaannya. Produk yang dibuat dalam proses pembuatan bubut ini diantaranya, berupa catur, stempel, mainan yoyo, tempat putung rokok, asbak, vas bunga, ontong-ontong, alat pemijat dan masih banyak lagi. Sehingga masyarakat disini terkenal dengan kerajinan yang terbuat dari kayu.
Menurut Bapak Ahwani yang merupakan salah satu pengusaha Kendang Jimbe di desa Santren menjelaskan bahwa dahulu saya dan teman-teman pengusaha lainnya sempat memproduksi kendang yang berasal dari Bali atau bahkan kendang Jawa. Pada waktu itu, hampir semua pengusaha kendang Jimbe di desa ini dahulunya memproduksi kendang yang berasal dari Bali atau bahkan kendang Jawa tersebut. Karena menurut kami semua pembuatan kendang tersebut sangatlah mudah, akan tetapi lama-kelamaan turis-turis menawarkan kepada kami untuk membuat kendang Jimbe. Dengan pesanan untuk membuat kendang seperti yang dicontohkan, akhirnya para penduduk sekitar desa Santren mencoba untuk membuatnya. Dan akhirnya para penduduk terutama dari desa Santren bisa membuat kendang tersebut. Selain itu, keuntungan yang di dapat juga sangat besar dengan modal yang besar pula. Setelah permintaan kendang Jimbe di pasaran melonjak, lama-kelamaan kami fokus memproduksi kendang Jimbe saja.
Selain itu, biasanya Bapak Ahwani memasarkan kerajinan kendang Jimbe tersebut ke Bali, karena menurut beliau disana banyak turis asing yang tertarik dengan alat musik tradisional, terutama kendang Jimbe ini. Beliau lebih memanfaatkan pulau Bali sebagai pusat pemasarannya. Tidak seperti Bapak Samsul Huda yang memasarkan Kendang Jimbe tersebut ke Yogyakarta. Dan nantinya kendang Jimbe tersebut akan di pasarkan oleh temannya ke negara-negara di Eropa terutama di Belanda.
Situasi tersebut berbeda dengan keterangan yang diberikan oleh Bapak Pramu yang memasarkan ke Bali menjadi pilihan utamanya. Selain itu juga mengirimnya ke Tulungagung, Yogyakarta, Banyuwangi, Lumajang, Surabaya, Pekalongan, Lamongan, dan Bandung. Dan beberapa negara di Eropa dan Asia, seperti negara Turki, Chili, Tunesia dan Thailand. Mungkin tindakan yang dilakukan Bapak Pramu hampir sama dengan pengusaha Kendang Jimbe yang lainnya, yaitu jika ada sedikit masalah dengan pemasaran hal yang saya lakukan adalah memasarkan sendiri ke masing-masing daerah tersebut.
Menurut para informan di atas, pelanggan sangatlah berarti untuk pelayanan yang mereka berikan kepada para konsumen. Sehingga mereka dapat meningkatkan kualitas mereka dalam memproduksi pemesanan selanjutnya. Dan kebanyakan dari para informan menyatakan banyak pengunjung yang langsung datang ke kios ataupun ke tempat kerja mereka. Hal ini menjadi suatu hal yang sangat menarik bagi kami, meskipun sekarang kendang Jimbe asli buatan desa Santren sudah tidak seperti dulu lagi. Ternyata masih banyak pengunjung yang masih mempercayakan kepada kami. Hingga mereka datang langsung ke desa Santren untuk melihat pembuatannya secara langsung. Hal ini juga merupakan daya tarik tersendiri dari Kampung wisata kota Blitar, agar mereka mengetahui bahwa tidak hanya Kendang Jimbe saja yang menjadi produk buatan kota Blitar.

Dampak dari Kendang Jimbe di desa Santren
            Dengan adanya Kendang Jimbe ini, membawa dampak tersendiri bagi masyarakat desa Santren dan pemerintah kota Blitar. Selain itu, kendang Jimbe juga berdampak bagi perdagangan dunia. Dimana perkembangan Kendang Jimbe sendiri sudah sampai ke luar negeri. Meskipun demikian, Kendang Jimbe masih dipandang rendah oleh pemerintah yang tidak pernah berantusias dalam mendukung pemproduksian Kendang Jimbe ini.
Menurut keterangan Bapak Ahwani, saat kami meminta surat perijinan kepada pemerintah kota Blitar. Mereka heran mengapa kami dapat memproduksi Kendang Jimbe dan mereka sempat tertawa ketika kami mengatakan akan mengirim Kendang Jimbe tersebut ke pulau Bali. Setelah beberapa hari mereka mendengar antusias turis yang menyukai Kendang Jimbe, mereka memberikan dukungan secara moril. Mereka tidak pernah memberikan dukungan berupa bahan-bahan yang akan kami gunakan membuat Kendang Jimbe. Hal ini menjadikan penilaian tersendiri bagi kami bahwa pemerintah kota Blitar hanya memberikan dukungan dan merespon industri Kendang Jimbe di desa Santren dengan baik. Akan tetapi sekitar tahun 2008 banyak orang yang berlomba-lomba untuk memproduksi Kendang Jimbe. Dan kebanyakan dari mereka adalah teman-teman dari desa sebelah, seperti desa Sentul dan Tanggung. Sekarang ini banyak yang mengatakan bahwa Kendang Jimbe berasal dari desa Sentul dan desa Tanggung.
Meskipun demikian, para pengusaha Kendang Jimbe desa Santren tidak putus asa untuk menanggapinya. Mereka tidak terlalu menghiraukan masalah tersebut dan mereka tidak takut untuk kehilangan pelanggan mereka. Saya dan teman-teman yang lain membuat Kendang Jimbe dengan menggunakan motif yang berbeda-beda dan sesuai selera kita masing-masing, keterangan dari Bapak Samsul Huda. Hal ini yang membedakan dengan Kendang Jimbe produksian desa lain (desa Sentul dan desa Santren).
Dampak lain dari adanya industri adalah antusias yang dimiliki masyarakat sekitar desa Santren. Setidaknya para pengusaha Kendang Jimbe tersebut memberikan lapangan pekerjaan yang sesuai dengan bidang yang mereka miliki yaitu bubut. Selain bubut, bidang lain yang dari dahulu sampai sekarang masih dilakukan adalah pemlituran. Dimana pemlituran ini memberikan warna pada Kendang Jimbe agar terlihat warnanya yang terkesan indah dan unik. Hal ini digunakan untuk menarik perhatian pembeli. Untuk para pemuda sekitar biasanya mereka menggunakan keterampilan yang masih mendukung adanya Kendang Jimbe, yaitu bagian painting. Pada bagian ini masyarakat membuat bentuk ukiran hewan atau membuat pewarnaan sekreatif mungkin agar terlihat indah untuk para pembeli. Sehingga hal ini dapat menjadi ciri khas bagi masyarakat sekitar yang dapat diselaraskan dengan bakat yang dimiliki masyarakat desa Santren.
Selain itu, desa Santren ini disebut sebagai kawasan Kampung wisata kota Blitar. Dimaksudkan menjadi kawasan khusus dalam kesatuan wilayah kota Blitar, yang didalamnya memuat tatanan sistem serta lingkungan fisik dan non fisik dengan menonjolkan potensi andalan sebagai komoditi unggulan wisata utama. Keberadaan kampung wisata akan menjadi media pendukung Kawasan wisata Makam Bung Karno yang memiliki peran penting dalam menopang perekonomian dalam sektor perdagangan, kerajinan dan jasa. Terutama untuk perindustrian Kendang Jimbe yang sampai saat ini masih menjadi sektor perekonomian terbesar di kota Blitar.
Desa Santren yang terletak di kecamatan Kepanjen Kidul ini sangat strategis untuk dikembangkan menjadi pusat pariwisata yang mendukung keberadaan kawasan kampung wisata Bung Karno dengan skala layanan regional dan nasional. Kawasan ini berada di kelurahan Tanggung dikembangkan sebagai sentra kerajinan bubut kayu dan tepatnya di desa Santren. Banyak sekali yang menjadi sentar kerajinan bubut kayu yang salah satunya adalah Kendang Jimbe. Dengan adanya Kendang Jimbe tersebut diharapkan dapat mendukung sektor dalam bidang perekonomian kota Blitar. Selain itu juga dapat menyerap tenaga kerja baik dari desa maupun dari luar desa  Santren sendiri.

Jumlah dan pemasaran Kendang Jimbe
Jenis kendang ini merupakan jenis alat perkusi yang cara memainkannya dengan cara dipukul dengan menggunakan dua tangan. Sehingga banyak beberapa metode yang dapat digunakan untuk memukul kendang ini. Diantaranya ada 4 buah metode untuk memukulnya dengan menghasilkan suara yang berbeda-beda. Misalnya tone dengan suara bass atau dengan slap akan menghasilkan nada yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Jika kita bisa memadukannya dengan baik maka akan menghasilkan irama jimbe yang berkualitas. Apalagi kalau dimainkan dengan secara berkelompok maka akan menghasilkan kolaborasi yang menarik untuk dinikmati.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Perindustri Dan Perdagangan kota Blitar (DIPERINDAG) dapat diketahui bahwa industri kerajinan bubut kayu yang berada di lingkungan tanggung santren Kecamatan kepanjenkidul berjumlah 329 industri kerajinan kerajinan bubut kayu, dengan rincian sebagai berikut:

Tabel 1.1 Jumlah Industri Bubut Kayu bulan Januari 2011
No.
Jenis Industri
Jumlah
1.
Industri besar
3
2.
Industri sedang
236
3.
Industri kecil
90
Jumlah
329 industri
Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan (DIPERINDAG) kota Blitar, Desember 2011
Populasi industri kerajinan bubut kayu sebanyak 329 industri. Yang dimaksud dalam populasi industri kerajinan bubut kayu dalam penelitian ini adalah industri kerajinan bubut kayu yang secara aktif terlibat dalam proses pembuatan kerajinan kayu hingga pada akhirnya dijual, baikindustri besar maupun kecil.
Secara keseluruhan jumlah unit usaha baik industri formal maupun industri nonformal mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Hal tersebut dapat dilihat pada Tabel. Berikut:

Tabel 1.2 Peningkatan Unit Usaha Formal dan Nonformal
Kota Blitar Tahun 2011
No.
Jenis Industri
Tahun
2009
2010
2011
1.
Industri Formal
3.223
3.022
3.077
2.
Industri Nonformal
4.148
4.145
4.154

Jumlah
7.371
7.167
7.231
Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan (DIPERINDAG) kota Blitar, Desember 2011
Peningkatan jumlah industri dan pertumbuhan yang senantiasa positif diatas mampu berkontribusi dalam penyerapan tenaga kerja yang lebih baik. pertumbuhan daya serap industri pada tenaga kerja terampil di kota Blitar sebesar 0,89 % di tahun 2011. Berikut ini adalah grafik penyerapan tenaga kerja di sektor industri:

Tabel 1.3 Tingkat Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Industri
Kota Blitar Tahun 2011
No.
Jenis Industri
Penyerapan Tenaga Kerja Tahun
2009
2010
2011
1.
Industri Formal
3.223
3.022
3.077
2.
Industri Nonformal
4.148
4.145
4.154

Jumlah
7.371
7.167
7.231
Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan (DIPERINDAG) kota Blitar, Desember 2011
Dari data di atas, dapat menunjukkan bahwa industri yang berada di desa Santren ini menjadi sektor industri kerajinan kayu utama di kota Blitar. Hal ini dirasakan oleh beberapa informan yang menyatakan penjualan Kendang Jimbe berdasarkan keadaan ekonomi. Ditunjukkan dengan penjualan beberapa bulan terakhir. Berikut:

Tabel 1.4 Perbandingan Penjualan Pengusaha Kendang Jimbe per bulan Agustus-Oktober 2012
No.
Nama Pengusaha
Bulan
Agustus
September
Oktober
1.
Bapak Ahwani
1.534
1.283
1.892
2.
Bapak Samsul Huda
1.948
1.726
1.532
3.
Bapak Nurhadi
1.467
1.629
1.593
4.
Bapak Pramu Hariyanto
1.543
1.789
2.023

Dari daftar tabel di atas, menunjukkan penjualan dari masing-masing informan yang diproduksinya dalam berbagai bentuk ukuran yang berbeda-beda dengan harga yang berbeda-beda pula. Dengan memproduksi Kendang Jimbe setiap bulan tersebut menunjukkan bahwa Kendang Jimbe tetap menjadi sektor perdagangan utama di kota Blitar. Akan berbeda pula dengan kerajinan yang lain seperti yoyo, ontong-ontong, asbak, ketapel dan sebagainya. Karena keuntungan yang dihasilkan dari kerajinan Kendang Jimbe ini sangat besar mengalahkan perdagangan kerajinan lain. Pembuatan tersebut tergantung dari kualitas dan tujuan yang dimiliki oleh setiap pengusaha. Seperti halnya Bapak Samsul Huda yang mengupayakan kualitas terbaik pada pembuatan Kendangnya, dengan cara membuatkan pesanan Kendang Jimbe tepat waktu dan sesuai dengan permintaan konsumen.
Selain itu, pemasarana yang dilakukan oleh masing-masing informan juga berbeda-beda. Akan tetapi, hampir semua informan memasarkannya ke Bali. Menurut mereka Bali merupakan tempat para turis yang menyukai keindahan yang tergambarkan oleh pemandangan pulau Bali tersebut. Termasuk menyukai budaya masyarakat Indonesia yang salah satunya adalah alat musik Kendang Jimbe ini. Banyak turis asing yang menyukai Kendang Jimbe ini, terkadang mereka datang langsung ke desa Santren untuk melihat proses pembuatan mulai dasar kayu mahoni sampai proses finishing. Hal ini menjadi ciri khas desa Santren yang mempunyai keindahan yang berupa alat musik tradisional Kendang Jimbe dan menjadi kebanggaan bagi kota Blitar. Kehadiran Kendang Jimbe membawa perubahan bagi masyarakat desa Santren yang dahulunya menjadi buruh bubut kayu, sehingga mereka sekarang dapat memproduksi Kendang Jimbe ini.

Penutup
Sejarah perindustrian Kendang Jimbe bercermin dari nama suatu alat komunikasi. Diperkirakan alat komunikasi tersebut merupakan peninggalan Kerajaan Mali tepatnya sekitar abad ke XII yang terdapat di Afrika. Belum diketahui secara pasti apa yang melatarbelakangi alat yang digunakan sebagai  alat komunikasi tersebut masih ada sampai sekarang. Karena kehadiran alat tersebut di Indonesia dibawa oleh turis asing. Diperkirakan alat tersebut menjadi daya tarik keindahan tersendiri bagi mereka untuk mengoleksi barang tersebut. Di Indonesia, alat tersebut diproduksi di desa Santren yang digunakan sebagai alat musik tradisional di Indonesia.
Orang yang berperan penting dalam pendirian Kendang Jimbe sebagai pembuat pertama di desa Santren adalah Bapak Sudirman. Beliau dianggap oleh masyarakat setempat sebagai orang pertama yang membuat contoh yang dibawa oleh turis asing tersebut. Beliau merupakan salah seorang yang ditawarkan pertama kali kepada turis tersebut untuk membuat Kendang Jimbe tersebut. Akan tetapi sering berjalannya waktu banyak masyarakat sekitar yang mengikuti jejak beliau. Selain itu, Kendang Jimbe merupakan salah satu produk unggulan kota Blitar yang sudah menembus pasar dunia. Pemasarannya sering dikirimkan ke Bali dan beberapa kota lainnya seperti Jakarta, Yogyakarta, Tulungagung, dan lain-lain. Kebanyakan dari pengusaha Kendang Jimbe di desa Santren memproduksi sekitar 1500-2000 buah Kendang Jimbe per bulannya. Peran masyarakat dan pemerintah kota Blitar sangat penting dalam meningkatkan kualitas yang dimiliki setiap pengusaha Kendang Jimbe di desa Santren ini. Karena sudah menjadi produk unggulan kota Blitar yang sudah terkenal sampai ke mancanegara.


Daftar Rujukan

ArsArsip
Laporan Keperindustrian bulan Januari 2011.

Buku
Partomo, Tiktik S. 2008. Ekonomi Industri, Jakarta: Penerbit Inti Prima.
Tohar, 2000. Membuka Usaha Kecil, Yogyakarta: Penerbit Kamisius.

Skripsi, Thesis, dan Disertasi
Jannah, N.S. Hubungan Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Pasar terhadap Profitabilitas Industri Kerajinan Bubut Kayu di Blitar. Skripsi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. 2010. Tidak diterbitkan.
Wiyanto, W.T. Pengembangan Industri Kecil dalam Rangka Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat (Studi Kasus pada Industri Kecil Kerajianan Bubut Kayu Desa Tanggung Kecamatan Kepanjen Kidul kota Blitar). Skripsi UB Malang. 2007. Tidak diterbitkan.

Website
·         Asal Usul Alat Musik Jimbe, http://seputarinfomusik.blogspot.com
·         Sejarah Alat Musik Djembe, http://17april87.blogspot.com.
·         Jimbe, http://belajarpintar.com/jimbe.html
·         Mega Indah. (Sejarah Kendang Sentul / Jimbe). (http://megaindahsejarahkendangsentul-Jimbe.htm, diakses tanggal 23 November 2012).

Wawancara
1.      Bapak H. Muh. Ahwani (50 tahun), pengusaha Kendang Jimbe (Wirausaha)-Santren. Wawancara 16 November 2012.
2.      Bapak Samsul Huda (41 tahun), pengusaha Kendang Jimbe (Wirausaha)-Santren. Wawancara 17 November 2012.
3.      Bapak Nurhadi (39 tahun), pengusaha Kendang Jimbe (Wirausaha)-Santren. Wawancara 23 November 2012.
4.      Bapak Pramu Hariyanto (44 tahun), pengusaha Kendang Jimbe (Wirausaha)-Santren. Wawancara 24 November 2012.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar