Sabtu, 22 Desember 2012

Sejarah Pabrik gula kebon agung Malang dan peranannya terhadap masyarakat sekitar

by. Harwin Galih Anugerah


Abstrak : Sejarah perkembangan perekonomian di Indonesia tentunya tidak bisa dilepaskan dari peranan perkebunan gula yang muncul sekitar abad 19 sebagai akibat dari adanya tanam paksa. Dari hal ini kemudian muncul lah banyak pabrik gula di Indonesia. Salah sataunya adalah yang berada di daerah Malang. Pada masanya Pabrik yang bernama PG Kebon Agung ini mempunyai peranan penting bagi ekonomi. Pabrik ini merupakan salah satu pabrik tertua yang ada di daerah Malang.
Kata Kunci : Pabrik Gula, Gula, Peranan, lapanagn pekerjaan

             PG Kebon Agung berlokasi di desa KebonAgung Pakisaji kabupaten Malang dengan ketinggian sekitar 480m dpl dan bertemperatur antara 26-27 derajat celsius dan berjarak kurang lebih sekitar 5 km dari jalan raya Malang dan Blitar. PG Kebon Agung yang didirikan tahun 1905 sedikit banyak mewarnai sejarah pergulaan di Indonesia, di wilayah Malang sendiri pada masa itu sudah banyak juga terdapat pabrik Gula yang lainnya. Awal berdirinya pabrik ini berasal dari surat ijin pemerintah Hindia Belanda yang diberikan kepada Caspar Joseph Pabst no 3 tahun 1902 yang berisi ijin untuk mendirikan sebuah pabrik gula di wilayah sengguruh Kabupaten Malang. Namun karena jeleknya harga gula pada masa itu C.J.Pabst tidak dapat mendapatkan modal sendiri untuk mendirikan pabrik ini meskipun dia sendiri adalah seorang penanam tebu. Pada masa selanjutnya ijin tersebut diambil alih oleh Ny. Sophie oosthoek istri seorang makelar kaya asal surabaya yang kemudian melimpahkannya kepada seorang pedagang chuna yang ada di surabaya yang bernama Tan Tjwan bie.
            Tan tjwan bie kemudian mengambil alih konsesi kebon agung untuk meneruskan dan mengelola pabrik itu. Namun dengan sedikitnya waktu yang didapatkan, Tan Tjwan Bie meminta perpanjangan waktu untuk pengusahaannya dari sebelumnya 21 Juli 1905 berakhir diundur hingga Desember 1906 dengan arti sebelum Juli 1905 telah dimulai proses pembelian tanah untuk pabrik itu dan juga proses pembangunan untuk pabrik. Sementara itu di pihak lain, para pabrik gula di wilayah Malang sendiri sedikit keberatan dengan didiriikannya pabrik tersebut, terutama PG yang berdekatan lokasinya dengan PG tersebut. Mereka takut akan terjadi perebutan lahan karena sebelumnya telah ditetapkan batas-batas kepemilikan tanah.
            Tepat tanggal 21 Juli 1905 atau batas awal akhir pembelian, PG kebon Agung berdiri dengan kepemilikan oleh Tan Tjwan Bie serta merupakan perusahaan perorangan hingga tahun 1917.  PG kebonagung memulai aktifitasnya tahun 1908 dengan produksi 8000 pikuls tebu atau setara dengan 5000 kuintal tebu perharinya. Tahun 1913 kapasitas produksi pabrik dinaikkan menjadi 10000 pikuls tebu perharinya. Dalam data tersebut juga dituilskan bahwa selama kepemilikan Tan Tjwan Bie telah terjadi pergantian Administrateur dari Kwee Lian Tik ke Tan Boen Tjiang.
            Pada tahun 1917 pengelolaan PG kebon agung diserahkan kepada Naamloze Vennotschap (NV) & Lanbow Maatschapij Tiedeman & van kerchem (TvK) yang sekaligus menjadi direksinya. Pada tanggal 20 Maret 1918 bentuk usaha yang semula perorangan dirubah menjadi usaha perseroan dengan nama NV Suikerfabriek Keboen Agoeng dan Tan Tjwan Bie sebagai direkturnya. Tahun 1920 di koran Java diberitakan bahwa dan yang digunakan untuk PG ini telah mencapai 2 juta Gulden dari sebelumnya yang hanya 10ribu Gulden. Untuk mengembangkan usahanya pada masa itu PG ini mencari kredit dengan menghipotikkan kepada De Javasche Bank daerah Malang. Namun karena terjadi depresi ekonomi tahun 1929 pabrik ini tidak mampu membayar tagihannya sehingga tahun 1932 seluruh saham perseroan tergadaikan dan pada tahun 1935 seluruh saham perseroan telah sepenuhnya dimiliki oleh De Javasche Bank. De Javasche Bank sebagai pemilik saham keseluruhan memiliki peranan sangat besar sehingga memliki keleluasaan dalam mengelola perusahaan.ketika bank ini menguasai PG Kedawoeng terjadi renovasi tahap I seperti yang terlihat pada bagian depan pabrik.
            Pada periode perang dunia II, terutama setelah serangan Jepang ke Pearl Harbour 8 Desember 1941, industri gula di Indonesia berpindah tangan dari pemerintah Hindia Belanda ke tangan Jepang. Pada masa ini banyak pabrik gula di Indonesia diubah fungsinya untuk keperluan perang Jepang, tak terkecuali PG Kebon Agung ini yang datanya tidak jelas namun konon pada masa itu PG kebon agung tidak memproduksi gula melainkan menggiling batu untuk keperluan pembangunan Jepang.
Setelah Proklamasi kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945, terjadi banyak perebutan kekuasaan dengan tentara Jepang yang di lain pihak juga terjadi banyak pertempuran dengan Belanda yang ingin mengambil kembali tanah jajahannya. Hal ini juga terkait dengan kurangnya perhatian pemerintah terhadap Pergulaan Nasional karena terlalu sibuk mengurusi urusan politik yang masih carut marut di dalam negeri. Namun, setelah hal ini terjadi pemerintah mengeluarkan PP no. 3 Tahun 1946 tentang pendirian Badan Penyelenggara Perusahaan Gula Negara (BPPGN) dan PP no. 4 Tahun 1946 tentang Pusat Perkebunan Negeri (PPN) untuk mengurusi industri pergulaan yang sempat mandek selama masa Jepang.
Dengan berdirinya BPPGN dan PPN ini perkebunan Gula yang pada masa Jepang tidak bekerja sama sekali sedikit demi sedikit mulai ditat kembali untuk melanjutkan pekrejaannya yang sempat tertunda bertahun-tahun. Namun hal ini tidak bisa berjalan mulus begitu saja, ketika Agresi Militer Belanda I terjadi banyak pabrik gula dan gedung-gedung yang menjadi sasaran pengeboman Belanda, apalagi setelah Agresi Militer Belanda II banyak pabrik gula yang dikuasai Belanda. Hal ini membuat BPPGN dan PPN tidak berjalan sebagaimana mestinya sehingga pemerintah akhirnya membubarkan dua instansi Nasional ini terhitung sejak 21 Desember 1949.
Tanggal 8 Maret 1950 keluar pengumuman No. 2 tahun 1950 tentang pembentukan panitia pengembalian perusahaan perkebunan kepada pemiliknya yang diketuai oleh residen masng-masing yang salah satu tugasnya adalah untuk membri masukan kepada gubernir serta menginventarisasi perkebunan dan pabrik gula yang ada di Nusantara. Rehabilitasi pabrik gula mulai dilaksanakan setelah dikembalikan kepada pemiliknya, di Jawa Timur sendiri pada tahun 1952 terdapat 29 Pabrik Gula dalam keadaan baik (temasuk PG Kebon Agung), 5 dalam tahp rehabilitasi dan 34 dalam kondisi buruk. Pada periode ini terjadi peristiwa yang sangat penting yakni pada tanggal 16 November 1954 melalui rapat umum pemegang saham, diputuskan bahwa Tan Tjwan Bie diberhentikan secara hormat sebagi Direktur dan perseroan diberikan kepada Spaarfonds voor Beambten van De Bank Indonesia (Bank Indonesia). Pada rentang waktu itu PG Kebon Agung diserahkan kembali kepada Tiedeman & vanKerchem (TvK) sebelum akhirnya dinasionalisasi 3 tahun kemudian.
Saat terjadinya aksi pembebasan Irian Barat tahun 1957, seluruh perusahaan yang ada di Indonesia dinasionalisasi termasuk PG Kebon Agung ini yang pengelolaanya dibawah Badan Pimpinan Umum-Perusahaan Perkebunan Negara (BPU-PPN). PG ini sendiri berada di bawah inspeksi BPU-PPN daerah VII yang berpusat di Surabaya. Periode ini dapat diartikan pengalihan tenaga kerja dari tenaga asing yang pada waktu itu sangat dominan menjadi tenaga kerja pribumi.
Setelah BPU-PPN Gula dilikiudasi pada tahun 1967, tahun 1968 pemerintah Indonesia menegluarkan kebijakan untuk meninjau kembali oerusahaan0perusahaan nasional yang telah dinasionalisasi, dan berdasarkan PP no. 3 tahun 1986 PG Kebon Agung dikembalikan kembali pada Yayasan Dana Tabungan Pegawai Bank Indonesia dan Yayasan Dana Pensiun dan Tunjangan Hari Tua Bank Indonesia. Berdasarkan hal ini, Bank Indonesia Unit I (sekarang Bank Indonesia) yang bertindak sebagi pengurus dua pemilik saham diatas menunjuk PT Biro Usaha Management Tri Gunabina sebagai pengelola PG Kebon Agung pada tanggal 17 Juni 1968. Dengan hal ini terhitung sejak 1 Juli 1968 PT Tri Gunabina bertindak sebagi penuh selaku direksi PG Kebon Agung yang sekaligus membawahi PG Triangkil yang ada di Jawa Tengah.
Pada tahun 1976-1978 PG Kebon Agung mencanangkan Program Rehabilitasi dan Modernisasi (RPM). Dari program ini telah dilakukan antara lain penambahan kapasitas produksi gula, perbaikan dan penggantian mesin-mesin yang sudah dimakan usia sebanyak 70-80%, dan tahun 1977 merupakan Renovasi tahap II yang telah dicanangkan pada RPM ini. Pada tanggal 25 Februari 1992, Bank Indonesia mendirikan Yayasan Kesejahteraan Karyawan Bank Indonesia (YKK-BI) dan memutuskan yayasan inilah yang menjadi pemegang saham tunggal PG Kebon Agung.
Pada tahun 1993 pengoperasian PG Kebon Agung telah mencapai 75 tahun, maka dari itulah kemudian diberikan akta Notaris pengganti yang sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku yang mengisyaratkan bahwa pengoperasian PG ini diperpanjang hingga 75 tahun lagi sekaligus mengubah nama menjadi PT Kebon Agung dari sebelumnya PT PG Kebon Agung.
I.                   PERKEMBANGAN USAHA
1.1              Perkembangan Pengelolaan Tanaman Tebu
Undang-undang tentang perkebunan telah ada sejak dimualinya Tanam Paksa antara tahun 1830-1870. Pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Undang-Undang yang bertujuan untuk melindungi kepentingan ekonomi penduduk pribumi. Di Pulau Jawa sendiri Tanam Paksa benar-benar terasa, hal ini mengakibatkan tebu menjadi komoditi utama selain kopi. Perkebunan dan Pengelolaan Gula di malang sendiri dimulai pada abad 19. Undang-undang Agraria tahun 1870 semakin membuat pembukaan lahan untuk perkebunan semakin meluas di malang, apalagi setelah dibukanya jalur kereta api dari Malang menuju Surabaya tahun 1879.
PG Kebon Agung sendiri memulai sktivitasnya tahun 1908 setelah 3 tahun sebelumnya berdiri dengan luas lahan 600 bahu yang kemudian berkemabang menjadi 1000 bahu pada 1913. Lahan-lahan ini diperoleh dengan cara menyewa dari penduduk setempat kemudian mengelola sendiri tebu pabrik. Kondisi lahan di wilayah kerja PG ini pada umumnya subur karena dialiri oleh 2 sungai yakni sungai Brantas dan sungai Metro. Hingga saat ini luas lahan yang dikelola oleh PG ini telah mencapai 12.000 ha yang berada di wilayah Kodya dan Kabupaten Malang terdiri atas 1200 lahan sawah dan sisanya merupakan lahan kering/tegal dengan 150 ha merupakan tanaman tebu sendiri dan sisanya merupakan tanaman tebu rakyat. Jumlah petani kurang lebih sekitar 4.000 petani yang tergabung dalam kelompok tani dan 21 unit koperasi.
1.2              Perubahan Tanaman Tebu Sendiri (TS) menjadi Tanaman Tebu Rakyat (TR)
Dari awal mula pabrik didirikan tanaman tebu yang dikelola merupakan Tanaman Tebu Sendiri (TS) dengan menyewa sawah-sawah petani setempat melalui sitem Glebagan, sedangkan budidaya tanaman tebunya dilakukan dengan sitem renoysa. Luas areal tanaman tebu berkembang sesuai dengan meningktanya kapasitas giling pabrik. Namun kemudian terdapat beberapa perubahan mengikuti peraturan yang ada terutama Sejak dikeluarkannya Inpres No. 9 tahun 1975, terjadilah pergantian dai sistem sewa ke sistem Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI), Tanaman Tebu Sendiri diganti menjadi Tebu Rakyat dimana Pabrik menyewa tanah petani namun tanah tersebut dikerjakan sendiri oleh petani dengan pengawasan dan bimbingan dari pabrik gula, hal ini bertujuan untuk semakin mensejahterakan petani.
Tanaman tebu di kabupaten Malang sendiri terus bertumbuh baik yang digunakan dan digiling di pabrik ataupun yang dipriduksi untuk dijadikan gula tumbuk. Sejalan dengan hal ini kemudian bermunculan berbagi koperasi petani TR untuk semakin memudahkan petani dalam pemasran,penjualan dan penyimpanan tebu mereka atau olahan tebu mereka. sejak 1975, dari total luas lahan kebu yang diewa oleh PG ini 30% merupakan Tebu Sendiri dan sisanya sebesar 70% merupakan TR. Namun semenjak adanya TRI, sebanyak 98% atau sejitar 8.000 ha merupakan TRI dan sisanya merupakan TS.
Dengan dikeluarkannya undang-undang No.12 tahun 1992 tentang diijinkannya petani menanam komoditi sesuai dengan keinginan yang dikehendaki, terjadilah lonjakan lahan tebu rakyat hingga saat ini mencapi 12.500 ha namun sebaliknya lahan TS yang disewa pabrik dari semual sekitar 30% dari total lahan kini menyusut menjadi 2% atau sekitar 150-250 ha. Dalam perjalanannya dari tahun ke tahun terjadi penurunan sehingga menyebabkan penurunan produksi tebu secara menyeluruh.
Untuk mengatasi kondisi seperti ini pemerintah telah merubah program TRI menjadi pola Tebu rakyat Kemitraan serta dilaksanakannya program akselerasi dengan mengganti tanaman yang ada dengan varietas unggul baru sehingga diharapkan mampu meningkatkan jumlah produksi dan mencukupi kebutuhan gula nasional.
1.3              Perkembangan Mesin dan Peralatan Pabrik
Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin maju setiap harinya, sebuah perusahaan yang membutuhkan keuntungan finansial tentunya harus memikirkan untuk memodernisasi peralatan-peralatan yang ada di pabriknya. Hal ini pula yang terjadi di PG Kebon agung, semenjak awal beroperasi pada tahun 1908 PG ini telah memiliki alat-alat yang bisa dibilang cukup baik untuk ukuran sebuah Pabrik Gula pada masa itu. Di jawa sendiri pada masa itu juga telah ada usaha-usaha pengolahan gula menggunakan tenaga manusia dan peralatan manual yang produknya bisa dibilang menjadi gula tumbuk. PG kebon agung sendiri pada awalnya meskipun proses pemurniannya masih bisa digolongkan sedrhana, namun sudah bisa menghasilkan Gula coklat dan Gula Tetes. Namun sekarng ini dengan semakin berkemabngnya teknologi, produksi yang mereka hasilkan bukan hanya dua jenis gula tersebut namun juga bisa mencakup gula kristal yang biasa dipakai dalam kehidupan kita sehari-hari.
1.4              Uraian Proses
Proses pembuatan gula di PG Kebon Agung ini diawalai di stasiun gilingan. Di stasiun Gilingan ini tebu yang sudah dicacah terlebih dahulu selanjutnay diperah (digiling) untuk mendapatkan nila mentah sebanyak-banyaknya. Di dalam pemerahan ini ditambahkan air, tujuannya agar gula yang masih ada dalam ampas terlalrut sehingga diharapkan ampas mengandung gula serendah-rendahnya. Nira yang sudah diperah kemudian dipompa menuju stasiun pemurnian Nira. Tujuan dari proses ini adalah untuk memisahkan kotoran-kotoran bukan gula yang terkandung dalam nira mentah, sehingga diperoleh hasil berupa nira encer atau nira jernih. Di dalam proses ini didapatkan kotoran yang bernaman bloting yang nantinya bisa digunakan sebagi pupuk.
Di PG Kebon Agung proses yang digunakan adalah proses sulfitasi sehingga bahan kimia yang digunakan adalah larutan kapur tohor dan gas SO2 yang diperoleh dari pembakaran belerang padat.
Nira encer hasil pemurnian masih banyak mengandung air sehingga dibutuhkan proses penguapan di stasiun penguapan untuk mendapatkan nira dengan ketentalan tertentu. Kemudian nira kental yang telah dihasilkan di proses lebih lanjut di stasiun masakan. Dimana dilakukan proses kristalisasi yang dimaksudkan untuk mengambil gula dalam nira kental sebanyak-banyaknya untuk dikristalisasi dalam ukuran tertentu yang dikehendaki. Hasil dari stasiun masakan ini masih belumlah bisa dijual karena masih berupa Masecuite yakni kristal gula yang masih mengandung sirup, harus diproses lebih lanjut di stasiun putaran untuk memisahkan gula dari sirupnya.
Pada proses putaran ini akan diperoleh gula kristal putih sebagai hasil utamanya adan tetes sebagi hasil sampingannya. Gula dari stasiun putaran ini selanjutnya akan diproses di stasiun pembungkusan, dimana setaip 50kg gula dikemas dalam 1 karung plastik ukuran 50 kg.
Sementara di pihak lain untuk menghasilkan energi, stasiun ketel digunakan untuk menghasilkan uap dari proses pemanasan air kondensat sampai mendidih dimana hasilnya nanti akan berupa uap yang digunakan untuk menggerakkan turbin di gilingan dan PLTU. Pada stasiun PLTU dilakukan proses perubahan dari stasiun ketel menjadi energi listrik.
Dalam perjalanan beroperasinya PG Kebon Agung ini, perubahan-perubahan perlatan mengikuti teknologi modern sering kali terjadi dan tak dapat dielakkan lagi demi produktivitas yang lebih tinggi dan efisien. Contohnya saja sampai tahun 1976 mesin gilingan yang digunakan masihlah mengginakan uap sebagi energi utamanya, namun setelah ada RPM pabrik pada tahun 1977 mesin-mesin itu diganti dengan yang baru yang digerakkan oleh turbin sehingga proses pmerahan nira enjadi lebih baik dan efisien. Selain itu sebagai upaya untuk melaksanakan program produksi bersih yang telah dicanangkan, Filter press yang digunakan sejak tahun 1911 mulai tahun 1982 diganti dengan Rotary Vacuum Filter yang memungkinkan kinerja lebih maksimal. Sementara untuk meningkatkan kualitas PG Kebon Agung juga memasang peralatan talo filtrat yang kemudian dilanjutkan dengan pemasangan tolo dura pada tahun 1991, fungsi dari kedua peralatan ini adalah untuk menjernihkan nira yang telah dihasilkan oleh Rotary Vacuum Filter dan juga menjernihkan nira kental.
1.5              Stasiun Penguapan
Pada tahun 1908-1910 stasiun penguapan PG Kebon Agung menggunakan sistem Triple effect yakni sistem 3 bejana evaporator dengan heater masing-masing seluas 325m2. Tahun 1911-1914 berubah menjadi Quadrupple effect yakni sistem 4 bejana evaporator dengan heater masing-masing seluas 600m2. Pada saat dilaksanakannya program RPM tahun 1977 sistem ini berubah lagi menjadi sistem dengan 5 evaporator dengan rincian 3 evaporator dengan luas heater mencapai 3300 m2 dan 2 buah evaporator dengan heater 800m2. Untuk meningkatkan kapasitas giling pada tahun 2000 dipasang lagi pre evaporator dengan heater seluas 1600m2 dan 2000m2.
Sejalan dengan program efisiensi yang dicanangkan oleh pabrik, tahun 1996 dipasanglah alat yang bernama Juice Catcher yang fungsinya untuk menangkap percik nira yang keluar dari setiap proses penjernihan nira sehingga bisa meminimalisir hilangnya gula pada proses penjernihan.
1.6              Stasiun Masakan
Pada awal berdirinya tahun 1908-1912 untuk stasiun masakan dipasang 2 buah pan masakan bertipe coil dengan total volume 280 Hekto Liter(HL) dan 4 buah pendingin dengan total volume 560 HL. Pada tahun 1913-1914 dipasang 3 buah pan masakan jenis coil dengan volume 480 HL dan dipasang lagi 2 buah pendingin sehingga volume total pendingin menjadi 840 HL. Sistem ini bertahan hingga terjadinya RPM tahun 1977 dimana dibangun kembali 6 buah pan masakan dengan tipe kalandria dengan volume masing-masing pan 420 HL dan 1 buah pan masakan dengan jenis coil yang bervolume 350 HL.
Pada RPM ini pula pendingin yang lama diganti dengan pendingin baru dengan rincian 4 buah pendingin untuk masakan A dengan volume total 1680 HL, 3 buah pendingin untuk masakan C dengan volume total 1460 HL dan 4 buah pendingin dengan untuk masakan D dengan volume total 1600 HL.Tahun 1978 dibangun lagi 2 buah pendingin cepat (rapid Crystalizer) dengan kapasitas 65 HL/jam yang dilengkapi dengan sistem pendingin cepat steam cooling pant.
1.7              Stasiun Putaran
Pada awal berdirinya tahun 1908-1910 stasiun putaran menggunakan weston centrifuge yang berjumlah 7 buah. Selanjutnya mulai tahun 1911-1912 ditambah lagi 2 mesin dengan jenis yang sama. Tahun 1913-1914 tercatat stasiun putaran menggunakan 16 buah weston centrifuge dengan dimensi 30” x  18”.
Pada saat pelaksanaan RPM tahun 1977 stasiun putaran dimodernisasi dengan pemasangan putaran High Grade dan Low Grade dengan merk BMA semi automatic dan full automatic. Namun tidak berhenti disitu saja, sejak tahun 2004 dengan tujuan untuk mengembangkan kapasitas pabrik, maka dipasang lagi 4 buah putaran High Grade type Western State (WS) full automatic dan 3 buah putaran Low Grade type WS.Untuk menghasilkan gula yang memenuhi kualitas standar nasional yang ditetapkan oleh Badan Sertifikasi Nasional (BSN) tahun 2001, maka PG Kebon Agung yang awal berdirinya hanya menggunakan 2 buah pengering gula diganti dengan 1 buah pengering gula yang dilengkapi dengan sistem pendingin.
1.8              Stasiun Ketel Uap (Boiler)
Pada awal beroperasinya antara tahun 1908-1912, ketel yang digunakan sebanyak 3 unit dan bertekanan rendag kurang lebih 10kg/cm3, dengan luas pemanas 760m2. Perkembangan selanjutnya sa,pai dengan tahun 1936 dilakukan penambahan 1 unit ketel uap sehngga luas pemanas keseluruhan mencapai 1.080m2. Sejalan dengan bertambahnya kpasitas giling pabrik, pada tahun 1962 dipasang lagi 1 unit ketel upa borsig dengan kapasitas 14 ton/jam bertekanan menengah antara 14-18 kg/cm2. Selanjutnya pada tahun 1967 dilakukan penambahan lagi 2 ketel uap borsig dengan kapasitas 14 ton/jam
Pada saat RPM 1977 dipasang 2 unit ketel uap Stork dengan kapasitas masing-masing 28 ton/jam dan ketel uap lama yang bertahan sejak 1936 pun dibongkar. Sementara itu pada tahun 1999, dipasang lagi sebuah lumi-ketel Yoshimine dengan kapasitas 80 ton/jam dan Sebagai langkah persiapan PG Kebon Agung dalam menghadapi persaingan produksi gula dan demi peningkatan produksi maka pada tahun 2005 dipasang lagi sebuah luni-ketel Yoshimine dengan kapasitas 100 ton/jam.

1.9              Stasiun Listrik
Sebenarnya tidak banyak data yang bisa diperoleh mengenai stasiun listrik PG ini pada awal berdirinya dulu. Namun yang diketahui adalah pada tahun 1967 dan 1970 dibangun diesel generator dengan kapasitas 275 KW dan 340 KW. Setelah itu dibangun turbin generator siemens 1dan siemens 2 pada 1973 dengan kapasitas masing-masing 1200 KW dan generator siemens 3 dibangun pada 1978 yang berkapasitas 1300 KW.
II.                PERKEMBANGAN KETENAGAKERJAAN
3.1.            Serikat Pekerja
Pembentukan sarikat buruh di Indonesia yang pada masa itu masih bernama Hindia Belanda sudah dimulai sejak abada 19 yang banyak dipelopori oleh kaum eropa yang miris melihat kondisi buruh-buruh di Indonesia yang tidak mampu melawan penguasa karena tidak terorganisisr secara baik. Sejalan dengan itu pada tahun 1919 sebuah sarikat buruh yang bernama Persatoean Pergerakan Kaoem Boeroeh (PPKB) terbentuk di Suarabaya untuk mewadahi para buruh yang bekerja di Surabaya dan sekitarnya.
Setalah masa kemerdekaan organisasi macam ini semakin banyak bermunculan, salah satunya adalah Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) pada tanggal 29 November 1964 yang di dalamnya terkumpul 34 organisasi buruh seluruh Indonesia. Kemudian pada masa Orde baru didirikan Serikat Buruh tunggal yakni Federasi Buruh Seluruh Indonesia (FBSI) yang berdiri tanggal 20 Februari 1973. Kemudian setelah pemerintah mengeluarkan peraturan yang isinya mengenai pendaftaran serikat buruh, yang juga menegaskan bahwa organisasi buruh dapat mendaftar di dinas tenaga kerja sehingga membuat orang tidak dapat secara mudah membuat serikat buruh baru seperti masa-masa sebelumnya. Pada tahun 1985, FBSI dirubah namanya menjadi Serikat Pekerja Seluruh Inonesia (SPSI), kata ‘buruh’ diperhalus menjadi kata karyawan atau pekerja.
3.2.            Perkembangan serikat Pekerja di PG Kebon Agung
Organisasi buruh di PG kebon Agung dimulai sejak 1948-1965, diamana buruh banyak mempunyai pilihan karena dibumbui unsur-unsur politis antara lain seperti SARBUMUSI (Serikat Buruh Muslim Indonesia), KBG (Kesatuan Buruh Gula)/Buruh Marhaenis, IBP )Ikatan Buruh Pancasila), GASBIINDO (Gabungan Serikat Buruh Islam Indonesia), PAGI (Persatuan Ahli Gula Indonesia) dll.
Kemudian tahun 1965-1973 organisasi buruh bertambah banyak jumlahnya di PG Kebon Agung sperti adanya PERKAPEN (Persatuan Karyawan Perkebunan), IBP (Ikatan Buruh Brawijaya), Kubu Pancasila, KESPEKSI (Kesatuan Pekerja Kristen Indonesia). Namun pada tahun 1973 semua organisasi di PG Kbon Agung diubah dan dilebur menjadi FBSI, pada tahun 1983 FBSI dirubah namanya menjadi SPSI dan bertahan sampai sekarang.
3.3.            Perjanjian Kerja Bersama dan Peraturan Perusahaan
Pelaksanaan hubungan ketenagakerjaan diarahkan pada terciptanya kerjasama yang serasi, selaras dan seimbang antara pekerja dengan Pengusaha. Dalam seluruh proses produksi serta usaha peningkatan kelancaran, efisiensi kelangsungan hidup perusahaan, Pekerja mencurahkan pikiran dan tenaga sebaik-baiknya untuk kepentingan perusahaan dan Pengusaha akan memberikan imbalan yang wajar dan layak secara kemanusiaan sesuai dengan jasa yang dihasilkan pekerja. Disamping itu, pengusaha juga memprhatikan peningkatan kesejahteraan pekerja dan keluarga berdasarkan kemampuan dan sesuai dengan kemajuan yang dicpai oleh perusahaan.
Demi terciptanya iklim keharmonisan dalam hubungan antara pekerja dan pengusaha, maka pekerja yang diwakili oleh SPSI Unit kerja PG Kebon Agung dan Dewan Pimpinan Pusat SPSI dengan Direksi PT Kebon Agung membuat Kesepakatan Kerja Bersama yang isinya mengatur tentang segala hak dan kewajiban bagi pekerja maupun pengusaha serta jaminan sosial bagi para pekerja. KKB ini setiap 2 tahun sekali diadakan perbaikan sesuai dengan hasil perundingan anatar ketiga pihak tersebut. Pada tahun 2003 nama KKB diubah Menjadi Perjanjian Kerja Bersama (PKB).
Pekerja di PG Kebon Agung ini dibagi menjadi 2 yakni Karyawan tetap dan karywan tidak tetap. Karyawan tidak tetap sendiri digolongkan menjadi berikut :
a)                   Pekerja Musiman (borongan) Tanaman
b)                  Pekerja Musiman (borongan) Tebangan
c)                   Pekerja Musiman lain-lain
d)                  Pekerja Kampanye/Giling
e)                   Pekerja Barangan lain-lain
III.             PERANAN PABRIK GULA KEBON AGUNG DALAM MELESTARIKAN LINGKUNGAN HIDUP
Perkembangan Industri pada gilirannya akan menghasilkan buangan yang berupa zat padat, cair maupun gas yang berpotensi mencemari lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Menyadari akan hal ini PG Kebon Agung sebagai sebuah industri yang cukup besar di daerahnya merasa harus berpartisipasi dalam upaya pelestarian lingkungan. Upaya ini diperoleh melalui studi AMDAL. Dalam hal ini PG kebon agung bekerja sama dengan Universitas Brawijaya malang untuk mengelola limbah dan menjaga kelestarian lingkungan hidup. Beberapa hal yang menjadi limbah pun coba ditangani dengan baik oleh kerjasama ini antara lain dalam bidang :
4.1.            Pengolahan Limbah Cair
Prioritas pertama pengelolaan limbah cair PG Kebon Agung adalah dengan membangun instalasi pengolahan limbah bekerja sama dengan konsultan “CEALA ENGINEERING” surabaya yang lokasinya berada dalam lingkungan pabrik. PG ini mengalokasikan dana sebesar 400 juta rupiah dan lahan seluas 15.500 m2 untuk pembangunan tersebut dengan desain kapasitas 60 m3 / detik dan menggunakan sistem penolahan aerobic maupun unaerobic. Proyek ini diselesaikan pada akhir tahun 1988 dan mulai diaplikasikan pada musim giling 1989, selama proses pembangunan berlangsung secara simultan dipersiapkan tenaga-tenaga yang dikemudian hari akan menangani proses pengolahan limbah cair.
Sesuai peraturan lingkunagn hidup yang berlaku, secara rutin tiap bulan dilakukan pengambilan contoh air untuk kemudian dilakukan pemeriksaan terhadap kualitas air limbah buangan. Dalam perjalanan waktu pengolahan limbah cair PG ini selalu dilakukan penyempurnaan termasuk memperbaiki kinerja air pendingin dan filtarsi limbah.
4.2.            Pengolahan Limbah Padat (Abu Ketel dan Blotong)
Abu ketel adalah sisa pembakaran ampas di stasiun ketel, merupakan limbah inert yang secara alamiah tidak bisa lagi dihancurkan. Sementara Bloting adalah limbah padat hasil pemurnian nira. Sejak tahun 1982 setelah adanya Vacuum Filter, blotong ini dapat dimanfaatkan sebagai tanah uruk dan juga sebagi pupuk organik bio kompos yang tempat pengolahannya terletak di desa Sempalwadak dengan kapasitas produksi mencapai 40 ton/hari. Sementara abu ketel dimanfaatkan sebagai tanah uruk dan juga sebagai bahan baku pembuatan bio kompos.
4.3.            Pengolahan Limbah Gas
Sebagai sisa hasil pembakaran bahan bakar melalui cerobong asap keluarlah gas hasil sisa pembakaran tersebut. Polusi udara terjadi apabila didalam dapur ketel terjadi pembakaran yang tidak sempurna karena kurang seimbangnya antara bahan bakar dengan suplai oksigen.
Untuk emnghindarkan hal ini maka zebelum gas buanagn dibuang melalui cerobong asap dipasanglah alat penangkap debu yang biasa disebut Scrubber. Sementara proses sulfitasi sebagai sistem yang masih digunakan di sebagian besar pabrik gula di indonesia menggunakan belerang sebagi bahan utamanya. Dari hasil pembakaran belerang ini keluarlah gas SO2 namun jika dalam kondisi baik gas ini tidak keluar, tapi tentu saja hal ini tidak bisa diharapkan.
Untuk menghindari hal ini dilakukan dengan cara melakukan pengendalian proses melalui kelengkapan peralatan deteksi berupa automatic regulated pH meter dan mengubah sistem proses sulfitasi serta pengendalian ketat pada proses pembakaran agar tidak menghasilkan gas SO2 maupun uap belerang.
IV.             PERANAN PABRIK GULA KEBON AGUNG TERHADAP MASYARAKAT SEKITAR
Pada awal berdirinya, lokasi pabrik gula ini masihlah jauh dari pemukiman penduduk, tapi lambat laun menjadi dekat akibat bertambahnya jumlah penduduk yang tidak terkontrol dan kondisi sosial ekonominya berbeda, dalam hal ini pabrik diwajibkan membangun hubungan baik dengan penduduk agar terjadi keselarasan tujuan.
Menanggapi hal ini PG kebon agung melakukan berbagai kegiatan untuk kesejahteraan penduduk sekitar, seperti membangun sarana pendidikan dan sarana kesehatan serta pemberian beasiswa bagi putra-putri karyawan dan anak penduduk yang berprestasi. Selain itu pemberian bantuan untuk instansi pendidikan dan pondok pesantern di sekitar, berperan aktif dalam pembangunan saran ibadah serta sarana kesehatan  sperti puskesma, pembangunan sarana jalan, jembatan dan irigasi, penyaluran sumber air bersih dari mata air, dan juga pembangunan kamar mandi umum. Acara sosial lain juga sering diadakan secara rutin seperti donor darah dan secara berkala melakukan pembagian sembaki bagi warga yang kurang mampu.
Sementara peranan pabrik bagi perekonomian masyarakat sangatlah terasa, seperti penciptaan lapangan kerja dan kesempatan kerja bagi masyrakat sekitar. Dalam hal ini selain sebagai petani tebu, masyarakat sekitar juga banyak direkrut sebagai pegawai pabrik gula ini. Selain itu pabrik ini secara tidak langsung juga menciptakan pekerjaan di bidang lain, seperti jasa angkutan transportasi dll.

V.                KESIMPULAN
Pabrik Gula Kebon Agung yang berlokasi di Desa Kebon Agung, Pakisaji Malang ini berdiri sekitar tahun 1905 didirikan oleh Tan Tjwan Bie dan mulai beroperasi sekitar tahun 1908. Pada masa Belanda PG ini dikelola oleh Naamloze Vennotschap (NV) & Lanbow Maatschapij Tiedeman & van kerchem (TvK) namun kemudian setalah masa proklamasi Pabrik gula ini diambil alih oleh Bank Indonesia dan berada dibawah naungan BI hingga sekarang. Pabrik Gula ini merupakan salah satu yang tertua di daerah Malang, dan sedikit banyak telah mewarnai perjalanan sejarah pergulaan di Indonesia.
Pada masa sekarang, pabrik yang dulunya jauh dari pemukiman penduduk semakin lama semakin mendekati pemukiman penduduk dan hal ini membuat pabrik harus melakukan beberapa hal sebagai timbal balik kepada masyarakat seperti pendirian sarana dan prasarana pendidikan serta pemberian bantuan kepada masyarakat. Selain itu pabrik ini banyak menciptakan tenaga kerja bagi masyarakat sekitar karena banyak dari pekerja pabrik ini yang merupakan penduduk sekitar.


DAFTAR RUJUKAN

http://Malangpedia.blogspott.com_Pabrik_Gula_Malang_Tempo_dulu
http://Bloganyur.blogspot.com_Malang_jaman_Belanda
Direksi PG Kebon Agung.1977.Rehabilitasi Perluasan dan Modernisasi (RPM). Guna Tri Bina. Malang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar